Jawaban:
Etika profesi sangat dibutuhkan oleh para insinyur dalam peran mereka sebagai profesional dalam mendesain produk, struktur maupun proses dalam menghadirkan suatu karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat banyak. Karena etika akan berkaitan erat dengan konsep yang dimilki oleh perorangan maupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Selanjutnya, karena kelompok professional terdiri dari kelompok yang diperoleh melalui berbagai macam proses pendidikan yang berkualitas dan berstandar tinggi sehingga itu hanya dapat dikontrol dan dinilai oleh teman atau rekan sesama frofesinya sendiri. Sehingga dihadirkan suatu organisasi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian pada suatu kelompok professional. Dampak yang nantinya timbul pada masalah frofesi keteknikan akan timbul ketika seorang insinyur atau kelompok insinyur dihadapkan dengan masalah perancangan suatu produk baru maupun pengembangan produk. Bila dilakukan dengan adanya etika atau kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya sehingga menimbulkan kepercayaan dari masyarakat. Sedangkan, melakukannya tanpa adanya etika profesi membuat apa yang semua dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegrasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.
2. Beri contoh minimal tiga kasus pelanggaran etika profesi yang pernah terjadi di bidang profesi keteknikan ! Apa dampak yang ditimbulkan?
Jawaban:
kasus perlanggaran etika profesi sebagai berikut:
a. Jatuhnya pesawat valujet 592
Valujet adalah salah satu generasi pesawat murah baru yang didirikan sebagai akibat akibat deregulasi maskapai penerbangan pada tahun 1980. Berkantor pusat di Atlanta, Valujet menawarkan biaya tiket murah ke Florida dan tujuan terkenal lainnya. Penghematan biaya yang dilakukannya sebagian dapat tercapai karena Valujet menyewa perusahaan lain untuk melakukan berbagai operasi rutin yang membuat pesawat dapat terbang. Misalnya, banyak maskapai pener-bangan besar melakukan pemeliharaan pesawatnya sendiri, sementara pekerjaan peme¬liharaan ini diberikan Valujet kepada perusahaan bernama SabreTech yang disewanya. Salah satu pekerjaan yang harus dilakukan SabreTech untuk Valujet adalah tugas rutin mengganti tabung generator oksigen pada beberapa pesawat DC-9 milik Valujet. Pe¬kerjaan ini dilakukan di fasilitas SabreTech di Miami International Airport.
Tabung oksigen dalam pesawat DC-9 ditempatkan di atas tempat duduk penum¬pang dan digunakan untuk menyediakan oksigen bagi penumpang melalui masker jika tekanan kabin berkurang. Tabung itu berisi inti sodium klorat, yang diaktifkan oleh pemantik kecil. Letupan kecil ini dinyalakan ketika penumpang menarik masker oksigen ke arahnya. Suatu reaksi kimia dalam tabung itu membebaskan oksigen, yang dipakai bernapas oleh penumpang melalui masker. Selama pemakaian, suhu permukaan tabung bisa mencapai 500°F, yang biasanya tidak menjadi masalah, karena tabung itu dipasang sedemikian rupa sehingga mempunyai ventilasi yang baik. Untuk memastikan bahwa tabung itu beroperasi dengan balk ketika diperlukan, tabung generator oksigen harus diganti secara berkala.
Aturan pemeliharaan Valujet jelas me¬nyebutkan bahwa ketika tabung dipindahkan, sebuah tutupan pengaman berwarna kuning terang harus dipasang di atasnya untuk me¬mastikan pemantik tersebut tidak sengaja terlepas. Sayangnya, SabreTech tidak mem¬bawa satupun-tutupan pengaman ketika mereka melakukan pekerjaan ini. Sebagai gantinya, mereka memasang pita perekat di tempat tutupan disingkirkan, dan tabung itu ditempatkan dalam lima kotak kardus tebal dan ditinggalkan di sebuah rak di hanggar. Meskipun demikian, dua mekanik SabreTech menandai kertas kerja bahwa tutupan sudah dipasang dan pekerjaan tersebut sudah selesai.
Lima kotak tabung itu ditaruh di rak selama beberapa minggu, sampai seorang manajer menyuruh seorang petugas pengiriman membersihkan daerah itu dan mengeluarkan kotak-kotak itu dari hangar. Karena kotak iyu milik Valujet, petugas pengiriman itu menyiapkan kotak-kotak itu untuk dikirim kembali ke kantor pusat Valujetdi Atlanta. Pada barang kiriman itu ditambahkan ban serta busa diatasnya dan kemudian menyegelnya. Barang kiriman inipun diangkut ke Valujet 592. Petugas bagasi dan kopilot pesawat Valujet mengesampingkan fakta bahwa Valujet tidak diijinkan membawa barang berbahaya seperti generator oksigen kosong, yang berisi residu beracun reaksi kimia.
Apa yang terjadi pada pesawat itusetelah kargo dimuat dapat direkontruksi dari rekaman data penerbangan dan rekaman suara, “kotak hitam” yang harus dibawa semua penerbangan. Dari hasil itu setelah enam menit mengudara terjadi suara “bip” pada salah satu tabung terdorong dan pemantik menyala. Suara mengerikan dan tekanan naik turun yang menyertainya mungkin disebabkan oleh salah satu ban ditemaot penyimpanan itu meledak karena panas. Pesawat terguling kearah kanan dan menukik ke padang rumput Everglade. Seluruh penumpang pesawat sebanyak 110 orang tewas.
Setelah kecelakaan terjadi, Negara Bagian Florida mengajukan tuntutan kriminal terhadap SabreTech dan SabreTech menyetujui untuk mengajukan permohonan tidak menyangkal atas tuntutan tunggal kesalahan penanganan bahan berbahaya dan mendonasikan $500.000 kepada sebuah badan dana yang mendukung keselamatan penerbangan. Hasil keputusan itu mengecewakan banyak keluarga korban. Segera setelah kecelakaan itu Valujet vakum beberapa bulan dan mengganti namanya menjadi AirTran. Akibat kecelakaan itu FAA mulai mengharuskan maskapai penerbangan mengharuskan memasang detektor panas dan asap ditempat penyimpanan kargo seluruh pesawat.
b. Ban Firestone
Pada akhir tahun 1999 dan awal tahun 2000, Ford Motor Company mulai menerima laporan dari cabang-cabangnya di luar negeri tentang kegagalan ban Ford Explorer. Explor¬er adalah kendaraan SUV terkenal yang dilengkapi dengan ban standar yang dipasok oleh berbagai pabrik. Laporan kegagalan ban ini sebagian besar datang dari negara-negara seperti Brazil dan Arab Saudi, di mana ban-ban itu menerima temperatur yang relatif tinggi. Selama awal tahun 2000, Ford memulai suatu program untuk mengganti ban¬ban Explorer di luar negeri.
Mula-mula, kelihatannya masalah ban ini tidak ada hubungannya dengan etika enjiniring. Tetapi pada suatu saat kebenaran pasti akan terkuak. Ban mobil modern memakai desain yang sangat rumit. Ban mobil dirancang oleh insinyur menggunakan peralatan teknik modern seperti perangkat lunak komputer untuk desain (computer-aided design-CAD). Selanjutnya, insinyur yang bekerja di perusahaan pembuat otomotif seperti fort harus sangat memperhatikan ban apa yang ditentukan untuk kendaraan mereka rancang, bagaimana ban itu dibuat dan bagaimana ban itu akan beinteraksi dengan kendaraan.
Ban yang terlibat dalam masalah ini dibuat oleh Firestone, pemasok ban besar di seluruh dunia. Masalah yang ada tampaknya terletak pada alur yang terpisah dari badan ban. Firestone sebenarnya adalah perusahaan yang berkantor pusat di Amerika Serikat, tetapi sudah dibeli oleh pabrik ban Jepang, Bridgestone. Meskipun jumlah kecelakaan kecil, hancurnya ban dan menyebabkan kendaraan terbalik, dan mengakibatkan penumpang kendaraan ter¬luka parah atau tewas. Meskipun hancurnya ban dan terbaliknya kendaraan menjadi masalah dalam beberapa model SW, masalah kendaraan terbalik yang paling parah terjadi pada ban Firestone yang terpasang pada Ford Explorer.
Sebagai hasil penyelidikan NHTSA, Firestone hendak menarik kembali 6,5 juta ban. Ini hanyalah sebagian dari seluruh jumlah ban yang sudah terpasang. Ford Motor Company sangat memperhatikan masalah ini, karena begitu banyak Explorer yang dilengkapi dengan ban Firestone. Setelah melalui banyak perdebatan antar dua peru¬sahaan itu, balk di belakang layar maupun di surat kabar, Ford memutuskan untuk mem¬bubarkan hubungannya dengan Firestone, mengumumkan bahwa perusahaan tidak lagi melengkapi kendaraan Ford baru dengan ban Firestone.
Memutuskan hubungan dengan Fire¬stone tidak menyelesaikan masalah bagi Ford, yang masih mempunyai sejumlah besar kendaraan di jalan yang sangat potensial di¬lengkapi ban gagal yang tidak ditarik Fire¬stone. Setelah melalui banyak perdebatan umum, pada bulan Met 2001 Ford memutus¬kan menarik sendiri ban Firestone dari ken¬daraan Ford. Berjuta-juta ban Firestone di-ganti atas biaya yang dikeluarkan Ford sendiri.
Salah satu aspek menarik dari kasus ini adalah bahwa data yang diungkap NHTSA mengindikasikan adanya tingkat kegagalan yang jauh di atas normal untuk ban-ban ini pada semua kendaraan, terapi masalah yang paling besar terjadi pada Ford Explorer. Dengan kata lain, kombinasi ban-ban tertentu itu dengan Ford Explorer tampaknya membuat masalah pada ban itu semakin buruk. Sebenarnya, Firestone berusaha meng¬klaim bahwa masalah sebenarnya lebih ter-letak pada Explorer dan bukan pada bannya: Mereka mengklaim bahwa Explorer dirancang dengan buruk dan memang mempunyai karakter mudah terbalik. Ini adalah ilustrasi fenomena sinergi yang sering terjadi dalam bidang enjiniring. Kadang-kadang, dua entitas desain yang dapat bekerja dengan baik jika berdiri senduri, menimbulkan masalah besar ketika keduanya digabungkan. Penting bagi para insinyur untuk memikirkan efek sinergis ini dalam mengerjakan desain baru, bahkan dalam memodifikasi desain yang sudah ada'' dan dalam mendesain prosedur pengujian untuk desain mereka.
Penarikan ban Ford membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya tuntas, tetapi tampaknya berhasil, karena insiden kegagalan ban dan terbaliknya Ford Explorer kian lama kian berkurang. Ford juga merancang ulang Explorer untuk membantu menghilangkan masalah terbaliknya kendaraan. Ford menghabiskan berjuta-juta dolar untuk program penarikan bannya, hal ini sangat mempengaruhi keuntungan perusahaan. Firestone menderita kerugian karena publisitas negatif dari kasus ini dan nyaris bangkrut karenanya.
c. Telepon Seluler dan Kanker
Kasus ini akan tampak berbeda banyak kasus yang akan kita pelajari, karena tidak ada bencana atau kesalahan yang harus dianalisis setelah kejadian. Bagaimanapun juga ini adalah kasus tentang sifat eksperimental enjiniring dan berkaitan dengan isu-isu tentang apa yang seharusnya dilakukan lebih dahulu dalarn siklus desain produk atau sistern baru untuk menghindari bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi pelangan atau publik secara umum. Kasus ini juga berhubungan dengan apa yang sebaiknva dilalku¬kan para insinyur setelah suatu produk diluncurkan ketika ada bahaya Yang mungkin timbul.
Keprihatinan tentang bahaya kesehatan yang ditimbulkan telepon seluler dimulai pada tahun 1992 dengan tuntutan hukum yang diajukan di Florida. Dalarn tuntutan ini, David Reynard mengklairn bahwa kanker otak parah yang diderita istrinya disebabkan oleh telepon seluler yang dipakai istrinya. Meskipuu tuntutan ini ditolak pada rahun 1995 karena kurangnya bukti ilmiah yang mendukung klaim Revnard, tuntutan ini dan tuntutan yang sama lainnya mendapat per-hatian besar dari media dan menimbulkan kekhawatiran di antara pemakai telepon seluler.
Masalah yang ada pada telepon seluler sudah jelas. Dalam menagunakan telepon seluler, Anda menmmpatkan sumber radiasi elektromagnetik dalani jarak dekat terhadap otak Anda. Tidak diperlukan banyak Imaginasi untuk melihat adanya kemungkinan masalah yang potential terjadi. Oven microwave memang juga menggunakan radiasi elekrromagnetik untuk memasak makanan, tetapi walaupun, telepon seluler beroperasi pada frekuensi yang berbeda dan pada tingkat energi Yang jauh lebih rendah daripada oven microwave, ponsel dipakai dalarn jarak dekat. Tubuh manusia berevolusi dalarn lingkungan yang tidak mengandung tingkat radiasi frekuensi radio (radio-frequency, rf) yang signifikan, jadi diyakini bahwa kehadiran bidang rf di mana mana dalarn dunia industri modern kita dapat menimbulkan beberapa dampak kesehatan yang merugikan.
Sudah ada beberapa studi tentang dampak radiasi rf terhadap kultur jaringan dan sel di laboratorium. hasil studi ini dan penerapamnya pada kesehatan rnanusia rnenjadi hal yang kontroversial. Beberapa studi teoritis telah mempelajari bagaimana energi rf dapat tersimpan pada otak manusia selama penilaian telepon seluler. Studi ini sangat sulit menjadi acuan karena sulit mengukur proses penyimpanan energi secara langsung dalam otak manusia.
Apa yang harus dilakukan insinvur yang bekerja di perusahaan relepon seluler atau beberapa perusahaan yang membuat produk yang melepaskan radiasi rf ketika menghadapi kekhwatiran yang terjadi tentang dampak kesehatan akibat bidang rf? Telepon seluler tentu saja dapat dirancang ulang untuk me¬ngurangi atau menghilangkan masalah ini, tetapi, tentu saja, selama rancangan yang akan mengarah pada pengurangan emisi mungkin memerlukan biaya lebih besar. Kita tidak akan tahu selama bertahun-tahun apa jawaban final menyangkut dampak kesehatan telepon seluler. Untuk saat ini, tampaknya telepon seluler akan digunakan. Hal bijak dan etis apa yang dilakukan dalam merancang produk seperti itu dalam suasana di mana ada sedikit keraguan tentang keamanan produk Kasus ini mengilustrasikan masalah yang dihadapi para insinyur ketika berurusan dan mengatur hal yang tidak diketahui. Banyak rancangan yang dibuat para insinyur bersifat eksperimental atau berhubungan dengan dampak yang tidak benar-benar dimengerti. Menjadi kewajiban insinyur untuk memberitahukan bahaya potensial kepada para pemakai ran-cangannya dan berusaha mengurangi resiko ini seminimal mungkin.
3. Dalam sebuah laboratorium riset dengan 50 orang peneliti telah terjadi kebocoran yang menyebabkan terinfeksinya para pekerja oleh bakteri mematikan. Dalam waktu singkat telah jatuh 10 korban jiwa. Untuk menghambat penyebaran bakteri yang belum ditemukan obat penangkalnya, dilakukan isolasi terhadap fasilitas tersebut. Namun demikian, potensi ancaman kematian masih menghantui 100 ribu penduduk kota tersebut. Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut adalah dengan membumihanguskan instalasi riset tersebut dengan bom, yang akan meluluh lantakkan fasilitas tersebut termasuk para peneliti di dalamnya. Jelaskan bagaimana cara menyelesaikan dilemma moral tersebut menurut faham:
Jawaban:
a. Kantianisme
Teori kantianisme pada masalah diatas dengan cara memperlakukan siapapun secara adil tanpa memperhitungakan tindakan ini adalah tindakan terbaik. Kasus kebocoran bakteri mematikan diselesaikan dengan cara melakukan isolasi terhadap instalasi riset tersebut. Isolasi dilakukan dengan mengevakuasi pekerja yang berada di tempat instalasi dengan memisahkan orang yang tidak terjangkit dengan yang terjangkit oleh bakteri mematikan. Pada moral kantianisme hidup seorang manusia sangat berharga sehingga tidak boleh melakukan tindakan pengorbanan demi orang banyak. Tindakan isolasi dimaksudkan agar orang yang terjangkit dapat ditangani dengan baik hingga penangkal ditemukan atau memperlambat reaksi bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia yang terjangkit. Walaupun tindakan pengobatan bisa dikatakan nihil namun dalam konsep moral kantianisme mengedepankan keselamatan orang sampai batas yang tidak ditentukan.
b.Utilitarianisme
Teori moral utilitarisme pada masalah diatas dengan cara memperhitungkan konsekuensi bagi semua orang yang terkena dampak dari kebocoran yang dapat menyebabkan kematian. Kasus diatas menyelesaikan dengan dilemma moral utilitarianisme dengan cara membumihanguskan instalasi riset dengan bom sehingga membunuh bakteri yang menolak dilakukan tindakan isolasi. Tindakan ini diambil bilamana tidak dilakukan penghancuran tempat instalasi maka penyebaran penyakit akan ada kemungkinan terus menyebar sehingga bukan saja para peneliti tapi penduduk yang berjumlah sekitar 100 ribu orang akan terkena dampaknya yaitu terjangkit bakteri mematikan dan blum ada penangkalnya. Penghancuran tempat instalasi bertujuan mengurangi jumlah korban yang nantinya akan berjatuhan dan mengorbankan tempat instalasi penelitian beserta para peneliti dan fasilitas- fasilitasnya karena memikirkan kebaikan terbesar. Dampak yang akan timbul nantinya adalah menyelamatkan penduduk dengan mengorbankan para peneliti dengan tujuan warga yang selamat dapat meneruskan penelitian ataupun dapat berusaha mencari penangkal bakteri.
Sumber:
1.http://file.upi.edu/ai.php?dir=Direktori/A%20-%20FIP/JUR.%20PEND.%20LUAR%20SEKOLAH/197009302008011%20-%20ASEP%20SAEPUDIN/&file=pentingnya%20etika%20profesi.PDF
2. fledderman, Charles B., Engineering ethics, 2nd edition, Prentice hall, pearson education,2004
Etika profesi sangat dibutuhkan oleh para insinyur dalam peran mereka sebagai profesional dalam mendesain produk, struktur maupun proses dalam menghadirkan suatu karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat banyak. Karena etika akan berkaitan erat dengan konsep yang dimilki oleh perorangan maupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Selanjutnya, karena kelompok professional terdiri dari kelompok yang diperoleh melalui berbagai macam proses pendidikan yang berkualitas dan berstandar tinggi sehingga itu hanya dapat dikontrol dan dinilai oleh teman atau rekan sesama frofesinya sendiri. Sehingga dihadirkan suatu organisasi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian pada suatu kelompok professional. Dampak yang nantinya timbul pada masalah frofesi keteknikan akan timbul ketika seorang insinyur atau kelompok insinyur dihadapkan dengan masalah perancangan suatu produk baru maupun pengembangan produk. Bila dilakukan dengan adanya etika atau kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya sehingga menimbulkan kepercayaan dari masyarakat. Sedangkan, melakukannya tanpa adanya etika profesi membuat apa yang semua dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegrasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.
2. Beri contoh minimal tiga kasus pelanggaran etika profesi yang pernah terjadi di bidang profesi keteknikan ! Apa dampak yang ditimbulkan?
Jawaban:
kasus perlanggaran etika profesi sebagai berikut:
a. Jatuhnya pesawat valujet 592
Valujet adalah salah satu generasi pesawat murah baru yang didirikan sebagai akibat akibat deregulasi maskapai penerbangan pada tahun 1980. Berkantor pusat di Atlanta, Valujet menawarkan biaya tiket murah ke Florida dan tujuan terkenal lainnya. Penghematan biaya yang dilakukannya sebagian dapat tercapai karena Valujet menyewa perusahaan lain untuk melakukan berbagai operasi rutin yang membuat pesawat dapat terbang. Misalnya, banyak maskapai pener-bangan besar melakukan pemeliharaan pesawatnya sendiri, sementara pekerjaan peme¬liharaan ini diberikan Valujet kepada perusahaan bernama SabreTech yang disewanya. Salah satu pekerjaan yang harus dilakukan SabreTech untuk Valujet adalah tugas rutin mengganti tabung generator oksigen pada beberapa pesawat DC-9 milik Valujet. Pe¬kerjaan ini dilakukan di fasilitas SabreTech di Miami International Airport.
Tabung oksigen dalam pesawat DC-9 ditempatkan di atas tempat duduk penum¬pang dan digunakan untuk menyediakan oksigen bagi penumpang melalui masker jika tekanan kabin berkurang. Tabung itu berisi inti sodium klorat, yang diaktifkan oleh pemantik kecil. Letupan kecil ini dinyalakan ketika penumpang menarik masker oksigen ke arahnya. Suatu reaksi kimia dalam tabung itu membebaskan oksigen, yang dipakai bernapas oleh penumpang melalui masker. Selama pemakaian, suhu permukaan tabung bisa mencapai 500°F, yang biasanya tidak menjadi masalah, karena tabung itu dipasang sedemikian rupa sehingga mempunyai ventilasi yang baik. Untuk memastikan bahwa tabung itu beroperasi dengan balk ketika diperlukan, tabung generator oksigen harus diganti secara berkala.
Aturan pemeliharaan Valujet jelas me¬nyebutkan bahwa ketika tabung dipindahkan, sebuah tutupan pengaman berwarna kuning terang harus dipasang di atasnya untuk me¬mastikan pemantik tersebut tidak sengaja terlepas. Sayangnya, SabreTech tidak mem¬bawa satupun-tutupan pengaman ketika mereka melakukan pekerjaan ini. Sebagai gantinya, mereka memasang pita perekat di tempat tutupan disingkirkan, dan tabung itu ditempatkan dalam lima kotak kardus tebal dan ditinggalkan di sebuah rak di hanggar. Meskipun demikian, dua mekanik SabreTech menandai kertas kerja bahwa tutupan sudah dipasang dan pekerjaan tersebut sudah selesai.
Lima kotak tabung itu ditaruh di rak selama beberapa minggu, sampai seorang manajer menyuruh seorang petugas pengiriman membersihkan daerah itu dan mengeluarkan kotak-kotak itu dari hangar. Karena kotak iyu milik Valujet, petugas pengiriman itu menyiapkan kotak-kotak itu untuk dikirim kembali ke kantor pusat Valujetdi Atlanta. Pada barang kiriman itu ditambahkan ban serta busa diatasnya dan kemudian menyegelnya. Barang kiriman inipun diangkut ke Valujet 592. Petugas bagasi dan kopilot pesawat Valujet mengesampingkan fakta bahwa Valujet tidak diijinkan membawa barang berbahaya seperti generator oksigen kosong, yang berisi residu beracun reaksi kimia.
Apa yang terjadi pada pesawat itusetelah kargo dimuat dapat direkontruksi dari rekaman data penerbangan dan rekaman suara, “kotak hitam” yang harus dibawa semua penerbangan. Dari hasil itu setelah enam menit mengudara terjadi suara “bip” pada salah satu tabung terdorong dan pemantik menyala. Suara mengerikan dan tekanan naik turun yang menyertainya mungkin disebabkan oleh salah satu ban ditemaot penyimpanan itu meledak karena panas. Pesawat terguling kearah kanan dan menukik ke padang rumput Everglade. Seluruh penumpang pesawat sebanyak 110 orang tewas.
Setelah kecelakaan terjadi, Negara Bagian Florida mengajukan tuntutan kriminal terhadap SabreTech dan SabreTech menyetujui untuk mengajukan permohonan tidak menyangkal atas tuntutan tunggal kesalahan penanganan bahan berbahaya dan mendonasikan $500.000 kepada sebuah badan dana yang mendukung keselamatan penerbangan. Hasil keputusan itu mengecewakan banyak keluarga korban. Segera setelah kecelakaan itu Valujet vakum beberapa bulan dan mengganti namanya menjadi AirTran. Akibat kecelakaan itu FAA mulai mengharuskan maskapai penerbangan mengharuskan memasang detektor panas dan asap ditempat penyimpanan kargo seluruh pesawat.
b. Ban Firestone
Pada akhir tahun 1999 dan awal tahun 2000, Ford Motor Company mulai menerima laporan dari cabang-cabangnya di luar negeri tentang kegagalan ban Ford Explorer. Explor¬er adalah kendaraan SUV terkenal yang dilengkapi dengan ban standar yang dipasok oleh berbagai pabrik. Laporan kegagalan ban ini sebagian besar datang dari negara-negara seperti Brazil dan Arab Saudi, di mana ban-ban itu menerima temperatur yang relatif tinggi. Selama awal tahun 2000, Ford memulai suatu program untuk mengganti ban¬ban Explorer di luar negeri.
Mula-mula, kelihatannya masalah ban ini tidak ada hubungannya dengan etika enjiniring. Tetapi pada suatu saat kebenaran pasti akan terkuak. Ban mobil modern memakai desain yang sangat rumit. Ban mobil dirancang oleh insinyur menggunakan peralatan teknik modern seperti perangkat lunak komputer untuk desain (computer-aided design-CAD). Selanjutnya, insinyur yang bekerja di perusahaan pembuat otomotif seperti fort harus sangat memperhatikan ban apa yang ditentukan untuk kendaraan mereka rancang, bagaimana ban itu dibuat dan bagaimana ban itu akan beinteraksi dengan kendaraan.
Ban yang terlibat dalam masalah ini dibuat oleh Firestone, pemasok ban besar di seluruh dunia. Masalah yang ada tampaknya terletak pada alur yang terpisah dari badan ban. Firestone sebenarnya adalah perusahaan yang berkantor pusat di Amerika Serikat, tetapi sudah dibeli oleh pabrik ban Jepang, Bridgestone. Meskipun jumlah kecelakaan kecil, hancurnya ban dan menyebabkan kendaraan terbalik, dan mengakibatkan penumpang kendaraan ter¬luka parah atau tewas. Meskipun hancurnya ban dan terbaliknya kendaraan menjadi masalah dalam beberapa model SW, masalah kendaraan terbalik yang paling parah terjadi pada ban Firestone yang terpasang pada Ford Explorer.
Sebagai hasil penyelidikan NHTSA, Firestone hendak menarik kembali 6,5 juta ban. Ini hanyalah sebagian dari seluruh jumlah ban yang sudah terpasang. Ford Motor Company sangat memperhatikan masalah ini, karena begitu banyak Explorer yang dilengkapi dengan ban Firestone. Setelah melalui banyak perdebatan antar dua peru¬sahaan itu, balk di belakang layar maupun di surat kabar, Ford memutuskan untuk mem¬bubarkan hubungannya dengan Firestone, mengumumkan bahwa perusahaan tidak lagi melengkapi kendaraan Ford baru dengan ban Firestone.
Memutuskan hubungan dengan Fire¬stone tidak menyelesaikan masalah bagi Ford, yang masih mempunyai sejumlah besar kendaraan di jalan yang sangat potensial di¬lengkapi ban gagal yang tidak ditarik Fire¬stone. Setelah melalui banyak perdebatan umum, pada bulan Met 2001 Ford memutus¬kan menarik sendiri ban Firestone dari ken¬daraan Ford. Berjuta-juta ban Firestone di-ganti atas biaya yang dikeluarkan Ford sendiri.
Salah satu aspek menarik dari kasus ini adalah bahwa data yang diungkap NHTSA mengindikasikan adanya tingkat kegagalan yang jauh di atas normal untuk ban-ban ini pada semua kendaraan, terapi masalah yang paling besar terjadi pada Ford Explorer. Dengan kata lain, kombinasi ban-ban tertentu itu dengan Ford Explorer tampaknya membuat masalah pada ban itu semakin buruk. Sebenarnya, Firestone berusaha meng¬klaim bahwa masalah sebenarnya lebih ter-letak pada Explorer dan bukan pada bannya: Mereka mengklaim bahwa Explorer dirancang dengan buruk dan memang mempunyai karakter mudah terbalik. Ini adalah ilustrasi fenomena sinergi yang sering terjadi dalam bidang enjiniring. Kadang-kadang, dua entitas desain yang dapat bekerja dengan baik jika berdiri senduri, menimbulkan masalah besar ketika keduanya digabungkan. Penting bagi para insinyur untuk memikirkan efek sinergis ini dalam mengerjakan desain baru, bahkan dalam memodifikasi desain yang sudah ada'' dan dalam mendesain prosedur pengujian untuk desain mereka.
Penarikan ban Ford membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya tuntas, tetapi tampaknya berhasil, karena insiden kegagalan ban dan terbaliknya Ford Explorer kian lama kian berkurang. Ford juga merancang ulang Explorer untuk membantu menghilangkan masalah terbaliknya kendaraan. Ford menghabiskan berjuta-juta dolar untuk program penarikan bannya, hal ini sangat mempengaruhi keuntungan perusahaan. Firestone menderita kerugian karena publisitas negatif dari kasus ini dan nyaris bangkrut karenanya.
c. Telepon Seluler dan Kanker
Kasus ini akan tampak berbeda banyak kasus yang akan kita pelajari, karena tidak ada bencana atau kesalahan yang harus dianalisis setelah kejadian. Bagaimanapun juga ini adalah kasus tentang sifat eksperimental enjiniring dan berkaitan dengan isu-isu tentang apa yang seharusnya dilakukan lebih dahulu dalarn siklus desain produk atau sistern baru untuk menghindari bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi pelangan atau publik secara umum. Kasus ini juga berhubungan dengan apa yang sebaiknva dilalku¬kan para insinyur setelah suatu produk diluncurkan ketika ada bahaya Yang mungkin timbul.
Keprihatinan tentang bahaya kesehatan yang ditimbulkan telepon seluler dimulai pada tahun 1992 dengan tuntutan hukum yang diajukan di Florida. Dalarn tuntutan ini, David Reynard mengklairn bahwa kanker otak parah yang diderita istrinya disebabkan oleh telepon seluler yang dipakai istrinya. Meskipuu tuntutan ini ditolak pada rahun 1995 karena kurangnya bukti ilmiah yang mendukung klaim Revnard, tuntutan ini dan tuntutan yang sama lainnya mendapat per-hatian besar dari media dan menimbulkan kekhawatiran di antara pemakai telepon seluler.
Masalah yang ada pada telepon seluler sudah jelas. Dalam menagunakan telepon seluler, Anda menmmpatkan sumber radiasi elektromagnetik dalani jarak dekat terhadap otak Anda. Tidak diperlukan banyak Imaginasi untuk melihat adanya kemungkinan masalah yang potential terjadi. Oven microwave memang juga menggunakan radiasi elekrromagnetik untuk memasak makanan, tetapi walaupun, telepon seluler beroperasi pada frekuensi yang berbeda dan pada tingkat energi Yang jauh lebih rendah daripada oven microwave, ponsel dipakai dalarn jarak dekat. Tubuh manusia berevolusi dalarn lingkungan yang tidak mengandung tingkat radiasi frekuensi radio (radio-frequency, rf) yang signifikan, jadi diyakini bahwa kehadiran bidang rf di mana mana dalarn dunia industri modern kita dapat menimbulkan beberapa dampak kesehatan yang merugikan.
Sudah ada beberapa studi tentang dampak radiasi rf terhadap kultur jaringan dan sel di laboratorium. hasil studi ini dan penerapamnya pada kesehatan rnanusia rnenjadi hal yang kontroversial. Beberapa studi teoritis telah mempelajari bagaimana energi rf dapat tersimpan pada otak manusia selama penilaian telepon seluler. Studi ini sangat sulit menjadi acuan karena sulit mengukur proses penyimpanan energi secara langsung dalam otak manusia.
Apa yang harus dilakukan insinvur yang bekerja di perusahaan relepon seluler atau beberapa perusahaan yang membuat produk yang melepaskan radiasi rf ketika menghadapi kekhwatiran yang terjadi tentang dampak kesehatan akibat bidang rf? Telepon seluler tentu saja dapat dirancang ulang untuk me¬ngurangi atau menghilangkan masalah ini, tetapi, tentu saja, selama rancangan yang akan mengarah pada pengurangan emisi mungkin memerlukan biaya lebih besar. Kita tidak akan tahu selama bertahun-tahun apa jawaban final menyangkut dampak kesehatan telepon seluler. Untuk saat ini, tampaknya telepon seluler akan digunakan. Hal bijak dan etis apa yang dilakukan dalam merancang produk seperti itu dalam suasana di mana ada sedikit keraguan tentang keamanan produk Kasus ini mengilustrasikan masalah yang dihadapi para insinyur ketika berurusan dan mengatur hal yang tidak diketahui. Banyak rancangan yang dibuat para insinyur bersifat eksperimental atau berhubungan dengan dampak yang tidak benar-benar dimengerti. Menjadi kewajiban insinyur untuk memberitahukan bahaya potensial kepada para pemakai ran-cangannya dan berusaha mengurangi resiko ini seminimal mungkin.
3. Dalam sebuah laboratorium riset dengan 50 orang peneliti telah terjadi kebocoran yang menyebabkan terinfeksinya para pekerja oleh bakteri mematikan. Dalam waktu singkat telah jatuh 10 korban jiwa. Untuk menghambat penyebaran bakteri yang belum ditemukan obat penangkalnya, dilakukan isolasi terhadap fasilitas tersebut. Namun demikian, potensi ancaman kematian masih menghantui 100 ribu penduduk kota tersebut. Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut adalah dengan membumihanguskan instalasi riset tersebut dengan bom, yang akan meluluh lantakkan fasilitas tersebut termasuk para peneliti di dalamnya. Jelaskan bagaimana cara menyelesaikan dilemma moral tersebut menurut faham:
Jawaban:
a. Kantianisme
Teori kantianisme pada masalah diatas dengan cara memperlakukan siapapun secara adil tanpa memperhitungakan tindakan ini adalah tindakan terbaik. Kasus kebocoran bakteri mematikan diselesaikan dengan cara melakukan isolasi terhadap instalasi riset tersebut. Isolasi dilakukan dengan mengevakuasi pekerja yang berada di tempat instalasi dengan memisahkan orang yang tidak terjangkit dengan yang terjangkit oleh bakteri mematikan. Pada moral kantianisme hidup seorang manusia sangat berharga sehingga tidak boleh melakukan tindakan pengorbanan demi orang banyak. Tindakan isolasi dimaksudkan agar orang yang terjangkit dapat ditangani dengan baik hingga penangkal ditemukan atau memperlambat reaksi bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia yang terjangkit. Walaupun tindakan pengobatan bisa dikatakan nihil namun dalam konsep moral kantianisme mengedepankan keselamatan orang sampai batas yang tidak ditentukan.
b.Utilitarianisme
Teori moral utilitarisme pada masalah diatas dengan cara memperhitungkan konsekuensi bagi semua orang yang terkena dampak dari kebocoran yang dapat menyebabkan kematian. Kasus diatas menyelesaikan dengan dilemma moral utilitarianisme dengan cara membumihanguskan instalasi riset dengan bom sehingga membunuh bakteri yang menolak dilakukan tindakan isolasi. Tindakan ini diambil bilamana tidak dilakukan penghancuran tempat instalasi maka penyebaran penyakit akan ada kemungkinan terus menyebar sehingga bukan saja para peneliti tapi penduduk yang berjumlah sekitar 100 ribu orang akan terkena dampaknya yaitu terjangkit bakteri mematikan dan blum ada penangkalnya. Penghancuran tempat instalasi bertujuan mengurangi jumlah korban yang nantinya akan berjatuhan dan mengorbankan tempat instalasi penelitian beserta para peneliti dan fasilitas- fasilitasnya karena memikirkan kebaikan terbesar. Dampak yang akan timbul nantinya adalah menyelamatkan penduduk dengan mengorbankan para peneliti dengan tujuan warga yang selamat dapat meneruskan penelitian ataupun dapat berusaha mencari penangkal bakteri.
Sumber:
1.http://file.upi.edu/ai.php?dir=Direktori/A%20-%20FIP/JUR.%20PEND.%20LUAR%20SEKOLAH/197009302008011%20-%20ASEP%20SAEPUDIN/&file=pentingnya%20etika%20profesi.PDF
2. fledderman, Charles B., Engineering ethics, 2nd edition, Prentice hall, pearson education,2004